Rabu, 06 April 2011

DESAIN DAN STRUKTUR ORGANISASI FORMAL


            Organisasi formal dapat diibaratkan sebagai sebuah kendaraan untuk mencapai tempat tujuan secara bersama. Organisasi formal adalah sistem kegiatan yang terkoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan dibawah kekuasaan dan kepemimpinan. Struktur meskipun hanya menyajikan kerangka, merupakan subsistem penting dalam system organisasi formal.

DESAIN STRUKTURAL ORGANISASI FORMAL
            Struktur organisasi formal disusun adalah untuk membantu pencapaian tujuan organisasi dengan lebih efektif. Struktur organisasi formal memiliki 2 muka yaitu model struktur, dimana kita dapat mempergunakan prinsip-prinsip teori organisasi, dan dimensi-dimensi dasar struktur, yang akan menentukan kegiatan-kegiatan dan hubungan-hubungan yang harus dilakukan dan tingkat spesialisasi yang dapat  diberikan. Variabel-variabel kunci yang menentukan desain struktural organisasi, yaitu :
  • Strategi Organisasi
  • Lingkungan yang melingkupinya
  • Teknologi yang digunakan
  • Orang-orang yang terlibat dalam organisasi

STRATEGI DAN STRUKTUR
Hubungan erat antara strategi dan struktur organisasional pertama kali dijelaskan oleh Chandler dalam studinya pada beberapa perusahaan besar. Dia menyatakan bahwa “struktur mengikuti strategi”.
            Dalam pemilihan suatu strategi – dan struktur untuk mengiimplementasikan – para manajer harus mempertimbangkan pengaruh lingkungan eksternal terhadap organisasi. Hubungan antara strategi, struktur, dan lingkungan dapat dipandang dari dua perspektif utama. Dalam pandangan pertama, organisasi adalah reaktif terhadap lingkungan : proses perumusan strategi harus memperhatikan lingkungan dimana organisasi beroperasi pada saat sekarang dan akan beroperasi di waktu yang akan dating. Dalam pandangan kedua, organisasi proaktif karena proses perumusan strategi mencakup pemilihan lingkungan dimana organisasi akan beroperasi dalam jangka waktu yang lebih panjang.

            Strategi pada gilirannya akan mempengaruhi struktur organisasi dengan penjelasan sebagai berikut :
  1. Strategi menetukan kegiatan-kegiatan organisasional, yang merupakan basis pokok bagi desain organisasi.
  2. Strategi mempengaruhi pemilihan teknologi dan orang-orang yang tepat untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut,
  3. Strategi menentukan lingkungan spesifik di mana organisasi akan beroperas ; ini juga akan mempengaruhi struktur.
Keberadaan struktur dan strategi lama sangat mempengaruhi perumusan strategi dan desain struktur baru.

LINGKUNGAN EKSTERNAL DAN STRUKTUR
Terdapat tiga tipe lingkungan sebagai berikut :
  1. Lingkungan stabil, yaitu lingkungan dengan sedikit atau tanpa perubahan yang tidak diperkirakan atau tiba-tiba.
  2. Lingkungan berubah (changing environment), yaitu lingkungan dimana inovasi mungkin terjadi dalam setiap atau semua bidang – produk, pasar, hokum, teknologi.
  3. Lingkungan bergejolak (turbulent environment). Bila para pesaing melempar produk baru dan tak terduga ke pasaran, hokum sering diganti, kemajuan teknologi merubah secara drastic desain produk dan metoda-metoda produksi, organisasi ada dalam lingkungan bergejolak.
      Sistem mekanistik berarti bahwa kegiatan-kegiatan organisasi diperinci menjadi tugas-tugas yang terpisah dan terspesialisasi. Berbagai sasaran dan wewenang untuk setiap individu dan sub unit ditentukan sepenuhnya oleh para manajer atas. Kekuasaan dalam organisasi mengikuti rantai perintah birokratik klasik.
      Dalam system organic, individu-individu lebih cenderung bekerja dalam suatu kelompok daripada bekerja sendiri. Para anggota berkomunikasi dengan semua tingkatan organisasi untuk mendapatkan informasi dan saran.

TEKNOLOGI DAN STRUKTUR
            Menurut Woodward, atas dasar hasil studinya, ada sejumlah hubungan antara proses teknologi dan struktur organisasi, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1.      Semakin kompleks teknologi semakin besar jumlah manajer dan tingkatan manajemen.
2.      Rentang manajemen para manajer lini pertama meningkat dari produksi ke massa dan kemudian turun dari produksi massa ke proses.
3.      Semakin tinggi kompleksitas teknologi perusahaan , semakin besar jumlah staff administrative dan klerikal.
Arti penemuan ini adalah bahwa setiap tipe teknologi ada aspek-aspek struktur orhanisasional spesifik yang berkaitan dengan perusahaan kerja yang lebih berhasil.

ORANG DAN STRUKTUR
            Manajer dan Struktur. Nilai-nilai manajerial merupakan factor penting dalam penentuan strategi organisasi. Para manajer organisasi – terutama para manajer puncak (direktur) – mempengaruhi pemilihan strategi secara langsung melalui prefensi mereka. Selanjutnya pemilihan strategi ini akan mempengaruhi tipe struktur yang digunakan dalam organisasi.
            Berbagai pengaruh penting lainnya pada struktur dapat berasal dari sikap pribadi manajer terhadap wewenang, perhatian, atau ketidakperhatiannya terhadap formalitas dan pengalaman-pengalaman masa lalu (positif ayau negative) dengan tipe-tipe desain organisasi.
            Karyawan dan Struktur. Factor-faktor seperti tingkat pendidikan, latar belakang, derajat minat pada pekerjaan para karyawan, dan ketersediaan berbagai alternative di luar organisasi merupakan penentu-penentu penting struktur organisasi.

PROSES DESAIN ORGANISASI
            Dalam teori, proses desain organisasi dapat mulai dari bawah ke atas (bottom up) atau dari atas ke bawah (top down). Dengan prosedur atas ke bawah, tujuan-tujuan organisasional umum di terjemahkan menjadi tujuan-tujuan khusus – sebagai sarana pencapaian hasil akhir yang diinginkan. Tujuan-tujuan ini kemudian menjadi dasar dengan mana serangkaian dapat diorganisasi. Posisi-posisi dalam berbagai departemen tersebut akan ditetapkan untuk berfungsi sebagai sarana pencapaian tujuan-tujuan. Akhirnya, berbagai kegiatan dirancang untuk setiap posisi. Melalui proses deduktif penetapan hasil akhir dan sarana-sarana pencapaiannya ini, struktur organisasi dapat dikembangkan.



PENDEKATAN KONTIGEN DALAM DESAIN ORGANISASI
Banyak teoritisi manajemen dan manajer praktek yang menyatakan keraguannya tentang suatu cara yang ideal untuk merancang organisasi. Struktur yang paling cocok bagi organisasi sangat tergantung pada keadaan-keadaan tertentu organisasi pada waktu tertentu. Jadi menurut pendekatan kontingensi (contingency approach), tugas manajer dalam desain organisasi adalah menetapkan suatu "kesesuaian" efektif antar struktur organisasi dan variabel-variabel tersebut.


MODEL-MODEL STRUKTUR ORGANISASI
            Struktur dalam kenyataannya tidak sesuai dengan kondisi teknologi dan lingkungan tidak dapat berjalan baik diatas kertas, bila tidak dalam praktek mungkin karena orang-orang menciptakan suatu pekerjaan-pekerjaan sendiri yang tidak sejalan dengan rancangan struktur yang ada. Jadi jelas, tujuan para manajer adalah menciptakan suatu struktur ysng memenuhi baik “tuntutan” lingkungan maupun membuatnya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan keinginan para anggota organisasi.
            Berikut ini adalah tiga model struktur organisasi yang dikenal : model tradisional, model hubungan manusiawi, dan model sumber daya manusia.

Model Tradisional
Bentuk umum model struktur tradisional secara esensial adalah pyramid. Masing-masing tingkatan hirarkis menggambarkan segmen struktur (satuan kerja, departemen, divisi, bagian dan sebagainya) dan hubungan-hubungan pekerjaan atasan – bawahan.
Bentuk umum struktur organisasi tradisional ini akan berbeda untuk jenis operasi perusahaan yang berbeda pula. Struktur tradisional dirancang terutama untuk lingkungan uang stabil dan perubahan-perubahan yang terjadi didalamnya dapat diperkirakan. Organisasi-organisasi seperti ini efisien atau tidak tergantung paling tidak pada dua factor :
1.      Jumlah energi organisasional total yang diperlukan untuk menjaga struktur dalam menghadapi tekanan-tekanan internal dan eksternal
2.      Derajat penggunaan kemampuan berbagai sumber daya oleh struktur yang mencangkup kemampuan semua anggotanya.
Model Hubungan Manusiawi
            Model hubungan manusiawi tidak mengalami perubahan mendasar dalam struktur formalnya dibandingakn model tradisioanal. Anggapan tentang kemampuan manusia tidaklah jauh berbeda dari model tradisional karena itu dalam model hubungan manusiawi juga diterima konsep spesialisasi, rutinitas, dan pemisahan perencanaan dari pelaksanaan sebagai karakteristik utama organisasi yang efektif.
            Walaupun model hubungan manusiawi mengungkapkan ketidaksempurnaan itu tetapi struktur hubungan manusiawi tidak menyarankan struktur formalnya dimodifikasi. Model ini lebih meng”usul”kan bermacam-macam penyesuaian, teknik-teknik dan perilaku-perilaku structural “off-line”.
                        Pertama, dan yang paling penting, model hubungan manusiawi “mempersilahkan” para manajer untuk mempergunakan kemampuan kepemimipinannya untuk mengurangi friksi-friksi di antara orang-orang dan jabatan-jabatan mereka dalam organisasi, serta mengembangkan hubungan kerjasama yang baik antar para anggota organisasi yang bertanggung jawab kepadanya.
                        Kedua, pendekatan hubungan manusiawi menyarakan maanjer memanfaatkan organisasi informal dalam departemennya – yang menunjukkan bahwa ia memberikan tanggapan kooperatif dan bukannya malah menentang.
                        Ketiga, pendekatan hubungan manusiawi ditunjukkan dengan sejumlah teknik atau program yang biasanya di bawah yurisdiksi atau kewenangan departemen personalia, yang dirancang untuk melayani kebutuhan-kebutuhan seluruh organisasi.
Organisasi hubungan manusiawi dan lingkungannya. Secara ringkas, inti konsep hubungan manusiawi tidak berhubungan langsung dengan struktur organisasi. Struktur diterima sebagai sesuatu pemberian yang sudah tertentu, suatu lingkungan dimana di dalamnya nampak sikap dan perilaku antar pribadi. Teori-teori hubungan manusiawi terutama lebih dimaksudkan sebagai usaha penyediaan sejumlah teknik dan kemanisme bagi para manajer, yang akan membantu mereka dan para bawahannya untuk menyesuaikan diri dengan batasan-batasan struktur yang ada daripada hanya sekedar menyediakan prinsip-prinsip untuk mengarah kan perancangan struktur itu sendiri.

Model Sumber Daya Manusia

            Implikasi model sumber daya manusia pada struktur organisasi, walaupun abstrak adalah jelas. Model ini berpendapat bahwa pada hakekatnya manusia mempunyai kemampuan untuk mempelajari penharahan dan pengendalian diri lebih kreatif daripada pekerjaan mereka sekarang, dan bahwa tugas manajer adalah menciptakan suatu lingkungan dimana mereka dapat meningkatkan sumbangan kapasitasnya pada organisasi. Jadi, implikasi utama adalah bahwa manajemen harus merancang suatu struktur yang berlawanan dengan hirarki tradisional.

Konsep model sumber daya ini mencoba memaksimumkan fleksibilitas baik di dalam maupun di antara posisi-posisi yang berinteraksi. Hal ini mengharuskan anggota-anggota organisasi mempunyai :
  • suatu tujuan tingkat operasional yang telah disetujui bersama
  • jalur untuk memperoleh sumber informasi vertikal dan horizontal yang relevan
  • kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap informasi dengan keputusan dan perilaku yang mengarahkan pencapaian tujuan dengan efisien.
Struktur organisasi menurut Likert (Linking-Pin) dibagi menjadi 3, yaitu hubungan-hubungan vertikal, hubungan-hubungan horizontal, dan hubungan-hubungan silang antar departemen. Bentuk struktur organisasi tingkat yang dikembangkan terakhir atas dasar model sumber daya manusia adalah struktur organisasi bentuk kolega (collegial form). Struktur ini memberikan kesempatan bagi setiap anggota untuk mengarahkan dan memutuskan kegiatan-kegiatannya sendiri, tanggung jawabnya hanya pada berhasilnya tujuan yang ingin dicapai. Setiap anggota akan secara langsung terikat dengan masing-masing anggota lainnya, dan karena itu harus ada persamaan tanggung jawab tehadap pertukaran informasi dan koordinasi kegiatan. Dalam kenyataannya struktur ini hanya berlaku (biasanya) pada organisasi yang kecil atau dalam sub bagian struktur yang lebih luas. Contoh yang paling umum adalah departemen Universitas.


DIMENSI-DIMENSI DASAR STRUKTUR ORGANISASI

Pembagian Kerja

Dengan norma-norma rasionalitas (efisiensi) organisasi dirancang untuk memungkinkan tercapainya tujuan di mana individu-individu tidak dapat mencapainya sendiri. Usaha-usaha lebih dari satu orang ini, sejalan dengan berkembangnya organisasi, akan mencapai suatu tingkat kompleksitas tertentu. Oleh karena itu, para anggota organisasi dihadapkan pada 2 perhatian pokok, yaitu :
  1. pembagian kerja yang dilaksanakan
  2. penentuan basis yang tepat untuk untuk pengelompokan kegiatan-kegiatan agar menghasilkan satuan-satuan kerja yang efisien dan menguntungkan bagi organisasi secara keseluruhan
Pembagian atau dekomposisi seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan menjadi unsur-unsur kerja yang semakin kecil disebut "pembedaan horizontal" atau lebih dikenal dengan istilah "pembagian kerja" (division of labor).

Berbagai Fungsi yang Melekat pada Struktur Organisasi

Pengembangan struktur organisasi formal bersangkutan juga dengan penyusunan hubungan-hubungan yang terjadi dalam struktur. Beberapa diantaranya dilakukan secara informal, tetapi sebagian besar dicapai melalui aturan pengembangan formal. Kegiatan-kegiatan dan hubungan-hubungan sebagai fungsi-fungsi struktural yang terjadi secara garis besar dapat diperinci sebagai berikut :
  • Wewenang
Adalah hak melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan sesuatu. Wewenang merupakan kunci jabatan manajerial.
  • Kekuasaan
Adalah kemampuan untuk melakukan wewenang. Wewenang tanpa kekuasaan atau sebaliknya akan menyebabkan konflik dalam organisasi.
  • Tanggung Jawab
Adalah kewajiban untuk melakukan sesuatu. Dalam organisasi, tanggung jawab adalah kewajiban seseorang untuk melaksanakan tugas atau fungsi organisasi.
  •  Akuntabilitas
Merupakan faktor di luar individu perasaan pribadinya. Bila seorang manajer menghendaki pertanggung jawaban untuk suatu kegiatan yang dilakukan bawahan dapat dikatakan akuntabilitas terjadi.
  • Komunikasi dalam organisasi
Dalam organisasi formal, arus informasi mengalir secara khusus. Struktur organisasi diharapkan dapat menjadi alat utama bagi komunikasi formal ini. Komunikasi seperti pemberian perintah, permintaan akan suatu informasi, dan penerangna tentang keputusan manajemen sering mengalir dari atas ke bawah melalui struktur tingkatan organisasi.
  •  Hubungan Lini dan Staf
Keduanya ini merupakan pendekatan berbeda untuk menetukan deskripsi wewenang dalam organisasi.
  •  Rentang Kendali
Adalah berapa orang jumlah bawahan yang dapat dikendalikan secara efektif oleh seorang manajer atau atasan. Disebut juga sebagai pengawasan (span of control).

Meskipun para penulis organisasi bermaksud menentukan jumlah rentang kendali secara pasti, tetapi tidak ada jumlah mutlak yang dapat ditentukan, karena hal ini tergantung pada variabel-variabel seperti tingkat manajemen yang berbeda, sifat pekerjaan, dan efisien tidaknya pelaksanaan pekerjaan bawahan dapat dikoordinasikan. 

Pendapat tentang rentang kendali yang palimh kuat justtru berasal dari teori dan bukan praktek. V.A. Graicunas, seorang konsultan dan ahli matematika Prancis, menemukan rumusan rentang kendali berikut ini :




R = n(2n-1  + n-1)

dimana : R = jumlah hubungan
              n = jumlah bawahan

  • Struktur Flat dan Tall
Dalam analisis organisasi, istilah flat (datar) dan tall (tinggi) digunakan untuk menggambarkan pola menyeluruh rentang kendali dan tingkatan manajemen. Bila prinsip rentangan klasik berkaitan dengan jumlah bawahan yang dapat dikelola secara efektif oleh seorang atasan, konsep flat dan tall lebih bersangkutan dengan pengaturan struktural vertikal untuk organisasi secara keseluruhan. Struktur tall mempunyai rentang kendali sedikit atau sempit, sedangkan struktur flat mempunyai rentangan melebar atau banyak. Dalam struktur tall, jumlah bawahan yang sedikit berada di bawah kendali seorang atasan sehingga memungkinkan pengawasan dan disiplin yang ketat. Struktur klasik biasanya berbentuk tall.
  • Sentralisasi dan desentralisasi
Bila wewenang didelegasikan atau dilimpahkan meluas dalam suatu organisasi, desentralisasi wewenang terjadi. Sebaliknya dalam organisasi dimana wewenang dipegang atau dipusatkan pada seseorang atau beberapa orang, kondisi sentralisasi wewenang tampak.
  •  Rantai wewenang skalar
Rantai wewenang skalar ini bersangkutan dengan jumlah tingkatan dalam suatu organisasi dan secara otomatis ada kapan saja seorang individu dijadikan bawahan pada seorang atasan. Secara lebih khusus, rantai skalar menetukan pembedaan tingkatan wewenag dalam organisasi, semakin tinggi tingkatan, semakin besar wewenang.
  • Kesatuan perintah
Ini berarti bahwa seorang bawahan hendaknya hanya menerima instruksi dari sumber tunggal. Kesatuan perintah terutama dimaksudkan untuk memudahkan koordinasi.


Departementasi 

Departementasi atau departementalisasi bersangkutan dengan proses penentuan cara pengelompokan kegiatan-kegiatan organisasi. Departementasi mencerminkan organisasi horizontal pada setiap tingkatan hirarki, dan berhubungan erat dengan prinsip spesialisasi klasik. Meskipun organisasi formal disusun atas dasar kegiatan-kegiatan dan hubungan-hubungan wewenang, kekuasaan, tanggung jawab, akuntabilitas, dan arus komunikasi yang sama, tetapi hasilnya adalah berbagai tipe struktur organisasi yang berbeda-beda.
Secara tradisional, proses, maksud, orang atau barang, dan tempat dipakai sebagai dasar departementasi. Departementasi yang lebih khusus, secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut :
  1. Waktu
  2. Pelayanan (service)
  3. Langganan
  4. Peralatan
  5. Urutan angka
Semakin besar dan kompleks suatu organisasi, akan sangat logis bila digunakan tipe departemnetasi organisasi kombinasi berbagai tipe, yang dikenal sebagai desain organisasi campuran (hybrid design) atau sering juga disebut mixed departementation. 
  • Departementasi Fungsional 
Pendekatan fungsional untuk pengelompokan kegiatan-kegiatan organisasi ini mungkin merupakan tipe departementasi yang paling umum dan paling luas digunakan dalam merancang struktur organisasi. Departementasi fungsional dapat dijumpai dalam semua tipe organisasi.

Kebaikan utama departementasi fungsuional adalah berkaitan dengan aspek-aspek positif spesialisasi. Secara teoritis, fungsionalisme akan meningkatkan efisiensi dan memungkinkan pemanfaatan karyawan dan peralatan paling ekonomis. Bagaimanapun juga pendekatan fungsional mempunyai berbagai kelemahan, antara lain memepersulit koordinasi, dapat menciptakan konflik antar fungsi, kurangnya kontak antar fungsi yang memgakibatkan para anggota berpandangan lebih sempit dan kurang inovatif, serta kurang tanggap terhadap perubahan lingkungan. Departementasi fungsional cocok untuk lingkungan yang stabil, memerlukan koordinasi internal minimum, dan sedikit membutuhkan keterampilan-keterampilan pribadi.
  • Departementasi Produk
Dengan berkembangnya organisasi formal, departementasi fungsional menjadi semakin sulit dan tidak praktis lagi. Dalam hal ini, manajemen dapat membenuk divisi-divisi setengah otonom, yang masing-masing merancang, memproduksi dan memasarkan sendiri produk-produknya. Setiap produk atau lini produk dikelola oleh seorang manajer yang bertanggung jawab kepada direktur organisasi. Jadi departementasi produk merupakan pengelompokan kegiatan-kegiatan atas dasar perbedaan barang-barang dan/atau jasa-jasa menurut perbedaan-perbedaan cara produksi atau pemrosesan dan/atau pemakaian akhir.
  •  Departementasi Wilayah
Bila organisasi beroperasi di wilayah-wilayah yang tersebar, maka departementasi atas dasar wilayah akan diperlukan. Kegiatan pemasaran yang beroperasi dibanyak daerah dalam suatu negara sering dibagi menjadi kelompok-kelompok wilayah dengan manajer pemasaran tersendiri (area manager) untuk setiap lokasi. Tipe departementasi wilayah ini sering juga disebut departementasi, lokasi, daerah, regional ataupun geografis.
Tipe organisasi divisional ini mempunyai beberapa kebaikan dan kelemahan. Kebaikan-kebaikannya antara lain :
  1. pengambilan keputusan lebih cepat dan dengan kemungkinan kualitas lebih baik
  2. koordinasi tugas lebih mudah dilaksanakan, karena ada pemusatan kegiatan
  3. beban manajemen pusat menjadi lebih ringan, karena ada pendelegasian wewenang
  4. pertanggunng jawaban lebih jelas
Sedangkan kelemahan-kelemahannya antara lain :
  1. kepentingan seluruh organisasi kurang diperhatikan, karena kepentingan terpusat pada ukuran prestasi divisi
  2. meningkatnya biaya operasional organisasi, karena cenderung terjadinya kelebihan staf, duplikasi sumber daya dan peralatan
  3. mempersulit alokasi sumber daya dan konsistensi kebijaksanaan.


DESAIN STRUKTURAL MODERN

Seperti halnya para teoritisi organisasi, banyak para manajer praktisi juga dikecewakan oleh cara-cara pengorganisasian tradisional. berikit ini akan diuraikan dan dianalisa berbagai model struktural lebih baru yang telah dirancang dan diimplementasikan untuk menghadapi berbagai tantangan.

Organisasi Proyek

Organisasi-organisasi proyek semakin banyak digunakan dalam industri-industri dengan teknologi tinggi yang memerlukan perhatian besar terhadap perencanaan, penelitian dan pengembangan, dan koordinasi. Karakteristik terpenting organisasi proyek, dan perbedaan paling radikal dengan struktur organisasi klasik, adalah adanya hubungan-hubungan horizontal dan diagonal.


Berbagai Tipe Struktur Proyek

Ada beberapa macam bentuk struktur proyek. Bentuk pertama adalah organisasi proyek individual. Struktur ini hanya berdiri dari manajer proyek, yang tidak mempunyai kegiatan-kegiatan atau personalia yang secara langsung melapor kepadanya. Tipe kedua adalah organisasi proyek staf. Dengan tipe struktur ini, manajer proyek mempunyai staf pendukung yang disediakan bagi kegiatan-kegiatan proyek, tetapi tugas-tugas fungsional pokok organisasi dilaksanakan oleh departemen-departemen lini tradisional. Variasi ketiga adalah organisasi proyek "Intermix", dimana di dalamnya manajer proyek mempunyai personalia staf dan dipilih kepala-kepala fungsional utama yang melapor secara langsung kepadanya.Tipe keempat disebut organisasi proyek agregat. Dalam tipe ini manajer proyek mempunyai semua personalia yang diperlukan untuk proyek, staf dan lini fungsional yang melapor secara langsung kepadanya.


Organisasi Matriks

Bila struktur proyek dilapiskan di atas struktur fungsional, hasilnya adalah sebuah matriks. Kadang-kadang organisasi matriks (matrix organization) dianggap sebagai bentuk organisasi proyek plus organisasi fungsional dan nama-namanya digunakan dengan saling dapat dipertukarkan.


Bagaimanapun juga, gambaran lebih akurat berikut akan menunjukkan bahwa organisasi matriks adalah organisasi proyek plus organisasi fungsional dan bukan hanya variasi dari organisasi proyek. Hamparan proyek memeberikan dimensi horizontal (lateral) pada orientasi vertikal tradisional dalam struktur fungsional.

Aliran wewenang vertikal dilaksanakan oleh manajer-manajer fungsional. Mereka menjalankan kegiatan dalam peranan mereka sebagai spesialis fungsional. Sedangkan aliran wewenang horizontal terletak pada manajer proyek dan stafnya, yang dibentuk untuk suatu program tertentu. Manajer proyek bertanggung jawab atas keberhasilan proyek yang dibebankan kepadanya, yang prosesnya harus melalui seluruh atau sebagian besar departemen-departemen fungsional.

Peranan manajer proyek adalah mengatur waktu, kualitas dan standar biaya proyek agar sesuai dengan rencana. Walaupun manajer proyek memiliki banyak wewenang formal (seperti menentukan anggaran, skedul waktu dan sebagainya), berhasilnya suatu proyek tergantung pada kemampuannya untuk mempengaruhi manajer-manajer fungsional dan mencapai saling pengertian dengan mereka.

Organisasi matriks sangat terkenal dalam industri ruang angkasa dan organisasi-organisasi yang memerlukan koordinasi karena banyakanya hubungan-hubungan yang terjadi atau yang memerlukan prestasi teknis tinggi, seperti perusahaan-perusahaan kontraktor, lembaga-lembaga konsultasi, serta penelitian dan pengembangan. Bentik organisasi matriks akan sangat bermanfaat bila :
  1. Kegiatan mempunyai waktu penyelesaian yang terbatas dan skedul waktu harus ditepati.
  2. Pengendalian biaya merupakan faktor kritis
  3. Banyak keterampilan atau keterampilan khusus yang membutuhkan koordinasi bagi penyelesaian proyek
  4. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan banyak yang baru dan belum dikenal para anggota tim proyek.


Orgaisasi Bentuk Bebas

Tipe organisasi yang berhubungan erat dengan model-model proyek dan matriks adalah struktur organisasi modern bentuk bebas (free-form organization), kadang-kadang disebut naturalistik atau organik. Model bentuk bebas didasarkan pada pemikiran bahwa maksud dirancangnya suaru organisasi adalah untuk memudahkan manajemen perubahan. Untuk mencapai sasaran ini, desain strujtural seharusnya sangat fleksibel dan berdaya sesuai (adaptable). Tidak ada aturan yang ditentukan atau bersifat kaku, dan struktur internal tidak dibiarkan menjadi baku.

Dengan konsep bentuk bebas ini, tidak ada satu cara pengorganisasian, tetapi struktur dirancang untuk memenuhi berbagai kebutuhan tertentu pada suatu waktu tertentu. Biasanya struktur yang didepartementalisasikan atas dasar fungsi digantikan dengan pusat-pusat penghasil laba yang berdiri sendiri. Satuan-satuan organisasional ini berorientasi hasil dan para anggotanya dikelola sebagai tim. Partisipasi, pengendalian diri, inisiatif individual, komunikasi terbuka, kebijakan independen, dan sensitivitas adalah beberapa contoh faktor manusiawi yang didorong dan dipermudah oleh organisasi bentuk-bebas.

Tipe organisasi bentuk-bebas dapat dipandang sebagai perluasan pola desentralisasi. Di samping itu, ada 2 karakteristik umum tipe organisasi ini.
  1. Organisasi bentuk-bebas menggunakan secara ekstensif sistem informasi yang dikomputerisasikan, terutama untuk mengevaluasi satuan-satuan kerja organisasional.
  2. Organisasi bentuk-bebas biasanya beranggotakan dan dikelola oleh para manaje rmuda dan dinamis yang berani mengambil resiko yang telah diperhitungkan.

sumber :
Organisasi Perusahaan, Teori Struktur dan Perilaku oleh: T.Hani Handoko, Bab V.

Rabu, 02 Maret 2011

tulisan

KIAT KIAT BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI
Di perguruan tinggi kita sebagai mahasiswa di tuntut untuk bertanggung jawab dan mandiri. Di perguruan tinggi mahasiswa harus bias dewasa dan aktif dalam perkuliahan. Karena kita harus mencari – cari dosen bila tugas atau nilai kita masih kurang. Perkuliahan sangat jauh berbeda dengan sekolah. Kita sebagai mahasiswa harus siap dengan tugas – tugas di tiap harinya. Diperkuliahan dosen tidak akan menyuruh kita untuk mencatat, tapi kita lah yang harus punya inisiatif untuk mencatat pa yang sudah dosen berikan.
Beberapa tips tentang kiat belajar di perguruan tinggi:
1.      Masuk kuliah tepat waktu. Masuk ruangan kuliah lima menit sebelum dosen dating, dan masuk lebih awal akan lebih baik dari pada masuk terlambat. Mahasiswa yang lebih dulu masuk ruangan dapat mempersiapkan diri untuk menerima materi kuliah yang akan di berikan oleh dosen, sebaliknya, mahasiswa yang datang terlambat akan mendapatkan kerugian. Tidak hanya tertinggal mencatat bahan kuliah, tapisukar untuk mengerti pokok bahasan apa yang telah disampaikan dan di jelaskan oleh dosen.
2.      Duduk di kursi depan.  mahasiswa yang duduk di depan tentu lebih jelas mendengar apa yang di jelaskan oleh dosen. Sedangkan mahasiswa yang duduk di belakang tidak begitu jelas mendengar penjelasan dosen. Duduk di kursi depan dapat membantu menambah konsentrasi dan dapat memperkecil berbagai gangguan yang tidak di inginkan. Lain halnya bagi mahasiswa yang duduk di belakang, mereka tentu merasakan kurang mendengar suara dosen. untuk menerima gangguan lebih besar kemungkinannya.
3.      Bertanya jika ada yang kurang dimengerti. Jangan malu untuk bertanya apabila kita mengalami kesulitan dalam pelajaran. Kita dapat bertanya kepada dosen atau teman kita yang sudah paham dan mengerti tentang pelajaran tersebut. Jangan menumpuk pertanyaan-pertanyaan kita karna apabial dasarny kita sudah tidak bisa akan sulit untuk mengikuti materi-materi seterusnya.
4.       Selesaikan tugas tepat waktu. Kerjakanlah tugas hari itu juga, jangan di tunda – tunda.karena pasti setiap hari kita akan mendapat tugas dari dosen. tugas yang menumpuk akan membuat kita kesulitan untuk menyelesaikannya.



MAKNA KATA “SUKSES”
Kata sukses itu mempunyai arti yang berbeda bagi stiap orang. John C, Maxwell dalam bukunya “The Success Journey” menyatakan bahwa sukses sejati bukanlah sesuatu yang bisa kita capai atau peroleh. Menurutnya sukses itu sebenarnya suatu perjalanan yang harus kita tempuh sepanjang hidup. Jadi sukses menurut saya adalah perjalanan kedalam diri kita yang paling dalam, apabila kita telah mencapai tujuan hidup yang kita cita – citakan, dan semua yang kita kerjakan dapat berguna bagi semua orang.

YANG AKAN DI KERJAKAN SETELAH LULUS KULIAH
Setiap mahasiswa pasti menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan yang di ambil saat kuliah dan bekerja di perusahaan yang bagus setelah lulus kuliah nanti. Kenapa kita di tuntut untuk bekerja setelah lulus kuliah nanti? Karena Perubahan dunia yang begitu cepat, persaingan dunia usaha yang begitu ketat, dan peningkatan biaya hidup, berdampak luar biasa kepada para pekerja ; bagi dirinya, keluarga, dan perusahaannya. Dan hanya kita yang bisa menentukan. Hidup untuk kerja atau kerja untuk hidup. Sedemikian besar persaingan antara dunia akademis dan dunia praktisi di Indonesia. Telah banyak usaha yg dilakukan untuk memperkecil jurang pemisah tersebut. Namun, data statistik menunjukkan jumlah pengangguran intelektual di Indonesia kian bertambah antara lain akibat kurang persiapan para sarjana menghadapi dunia kerja. Untuk mengetahui akan jadi apanya setelah lulus kuliah nanti, kita harus mengenali diri kita sendiri untuk mengetahui potensi - potensi apa yang ada di dalam diri kita. Globalisasi membawa banyak perubahan, termasuk jatuh bangunnya sebuah usaha, perusahaan, proses kerja, dan karier. Tidak jaminan bagi perusahaan untuk esok hari masih sukses. Dengan demikian, tak ada pula jaminan pekerjaan seseorang untuk tetap ada. Dan kenyataan ini mengubah karakteristik seseorang dalam bekerja setelah lulus nanti

ARTI SARJANA MEMBUMI
seorang sarjana yang sudah selesai menyelesaikan kuliahnya dan lulus dengan hasil yang memuaskan dan  terjun langsung kedalam dunia masyarakat . Makin banyak mahasiswa dan lulusan sarjana, makin sempit mendapatkan lapangan pekerjaan. Oleh karena itu, kita harus menggali potensi kita.

teori organisasi

TEORI ORGANISASI KLASIK
Konsep – konsep tentang organisasi sebenarnya telah berkembang mulai tahun 1800-an, dan konsep – konsep ini sekarang di kenal sebagai teori klasik (classical theory) atau kadang – kadang disebut juga teori traditional. Dampak teori klasik pada organisasi telah dan masih dirasakan sangat besar. Sebagai contoh, organisasi yang didasarkan birokrasi dan banyak bagian lain dari teori klasik telah ada ribuan tahun yang lalu, seperti yang dikenal dalam kerajaan Mesir, China, dan kekaisaran Romawi. Gereja Katolik Roma telah menggunakan teori klasik hamper dua ribu tahun lamanya. Jadi, konsep – konsep klasik dan penerapannya berkembang di banyak Negara dan dalam waktu yang sudah cukup lama.
                Organisasi secara umum digambarkan oleh para teoritisi klasik sebagai sangat tersentralisasi, dan tugas – tugasnya terspesialisasi. Teori klasik memberikan petunjuk “mekanistik” structural yang kaku, bukan kreativitas.
                Teori klasik berkembang dalam tiga aliran, yaitu birokrasi, teori administrasi, dan manajemen ilmiah. Ketiga aliran ini dibangun atas dasar anggapan – anggapan yang sama. Birokrasi dikembangkan dari ilmu sosiologi. Sedangkan teori administrasi dan manajemen ilmiah di kembangkan langsung dari pengalaman praktek manajemen. Teori administrasi memusatkan diri pada aspek makro dari organisasi. Aliran manajemen ilmiah member tekanan pada karyawan dan mandor dalam kegiatan perusahaan, atau elemen mikro sebagai suatu bagian dari proses kerja.
                Teori klasik mendefinisikan organisasi sebagai struktur hubungan, kekuasaan, tujuan, peranan, kegiatan, komunikasi dan factor – factor lain yang terjadi bila orang – orang bekerja bersama.
TEORI BIROKRASI
                Teori ini di kemukakan oleh Max Weber dalam bukunya “The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism. Kata birokrasi mula – mula berasal dari kata legal – rasional. Weber berpendapat bahwa masyarakat perlu membentuk organisasi “baru” yang lain dari organisasi traditional. Model organisasi “baru” ini (birokratik) mempunyai karakteristik – karakteristik structural tertentu yang dapat diketemukan di setiap organisasi kompleks dan modern. Weber mengemukakan karakteristik – karakteristik birokrasi sebagai berikut:
1.       Pembagian kerja yang jelas. Pembagian kerja atau spesialisasi hendaknya sesuai dengan kemampuan teknisnya.
2.       Hirarki wewenang yang dirumuskan secara baik. Sentralisasi kekuasaan berdasarkan suatu hirarki, di mana ada pemisah yang jelas antara tingkat – tingkat bawahan dan atasan, agar koordinasi terjamin.
3.       Program rasional dakam pencapaian tujuan organisasi. Seleksi dan promosi bagi personalia organisasi didasarkan atas kecakapan teknis, dan pendidikan latihan serta persyaratan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan dan pelaksanaan tugas.
4.       System prosedur bagi penanganan situasi kerja. Perlu adanya catatan tertulis demi kontinuitas, keseragaman (uniforminitas), dan untuk maksud – maksud transaksi.
5.       System aturan yang mencakup hak – hak dan kewajiban – kewajiban posisi para pemegang jabatan.
6.       Hubungan – hubungan antar pribadi yang besifat “impersonal”. Ada pemisahan antara masalah – masalah pribadi dengan persoalan – persoalan resmi (formal) organisasi.

Jadi, birokrasi adalah sebuah model organisasi normative, yang menekankan stuktur dalam organisasi. Unsur  – unsur  birokrasi masih banyak diketemukan di organisasi – organisasi modern yang lebih kompleks dari pada hubungan “face to face” yang sederhana.
TEORI ADMINISTRASI
                Teori administrasi adalah bagian kedua dari teori organisasi klasik. Seperti teori klasik lainnya, teori administrasi juga berkembang sejak tahun 1900. Teori ini sebagian besar di kembangkan atas dasar sumbangan Henri Fayol dan Lyndall Urwick dari Eropa, serta Mooney dan reiley di Amerika.
Henri Fayol
                Henri Fayol (1841 – 1925), seorang industrialis dari Perancis, pada tahun 1916 telah menulis masalah – maslah tehnik dan administrasi dalam bukunya yang terkenal, Administration Industrialle et Generale ( Administrasi Industri dan Umum). Fayol menyatakan bahwa semua kegiatan – kegiatan industrial dapat di bagi menjadi 6 kelompok:
1.       Kegiatan – kegiatan teknikal (produksi, manufacturing, adaptasi).
2.       Kegiatan – kegiatan komersial (pembelian, penjualan, pertukaran).
3.       Kegiatan – kegiatan financial (pencarian suatu penggunaan optimum dari modal).
4.       Kegiatan – kegiatan keamanan (perlindungan trhadap kekayaan dan personalia organisasi).
5.       Kegiatan – kegiatan akuntansi (penentuan persediaan, biaya, penyusunan neraca dan laporan rugi – laba, statistic).
6.       Kegiatan – kegiatan manajerial (perencanaan, pengorganisasian, pemberian pemerintah, pengkoordinasian dan pengawasan).
Disamping itu Fayol merinci fungsi – fungsi kegiatan administrasi menjadi “elemen – elemen” manajemen – perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pemberian perintah (commanding), pengkoordinasian (coordinating) dan pengawasan (controlling).
URWICK DAN GULICK : MOONEY DAN REILLY
                Selama tahun 1920-an dan 1930-an, sejumlah teoritis lain terutama yang terlibat dalam praktek – praktek manajemen dan konsultasi mengemukakan pandangan – pandangan mereka atas dasar konsep – konsep yang dinyatakan oleh Fayol. Dua di antaranya, Luther Gulick dan Lyndall Urwick, menggunakan pengalaman manajerial mereka dalam menguraikan prinsip –prinsip Fayol,  yang tercermin dalam dua makalahnya  A Technical Problem dan The Function of Administratio.
                Di Amerika Serikat, James D. Mooney dan Allen Reilly dalam tahun 1931 menulis dan menerbitkan buku mereka , ”Onward Industry”  dimana buku ini mempunyai dampak besar pada praktek manajemen di Amerika. Mooney dan Reilly menyebut koordinasi sebagai factor terpenting dalam perencanaan organisasi maupun bangun teori yang mereka kemukakan. Mereka menekankan tiga prinsip organisasi yang mereka teliti dan temukan telah dijalankan dalam organisasi – organisasi pemerintahan, agama, militer, dan bisnis. Ketiga prinsip tersebut adalah:
1.       Prinsip koordinasi. Organisasi berjalan bila orang – orang sebagai anggota mengkombinasikan usaha – usaha mereka untuk suatu tujuan tertentu. Asas dasar prinsip ini, usaha – usaha tersebut harus dikoordinasikan agar tujuan bersama tercapai.
2.       Prinsip scalar. Prinsip scalar kadang disebut hirarkis. Berarti bahwa pembagian tugas atau kerja di lakukan atas dasar derajat wewenang dan hubungan tanggung jawab.
3.       Prinsip fungsional. Istilah fungsionalisme dalam hal ini berarti pembedaan di anatara macam – macam tugas.


MANAJEMEN ILMIAH
                Bagian ketiga dari manajemen klasik adalah manajemen ilmiah (scientific management). Manajemen ilmiah yang mulai dikembangkan pada tahun 1900 oleh Frederick Winslow Taylor, telah di pergunakan cukup luas.
                F.W. Taylor menuangkan gagasan – gagasannya dalam tiga judul makalah, yaitu Shop Management. The Principles of Scientific Management, dan Testi mony Before the Special House Committee. Yang ditulisnya sekitar tahun 1900-an. Sebagai hasilnya dia mengemukakan empat kaidah dasar manajemen yang harus dilaksanakan dalam organisasi perusahaan, yaitu:
1.       Menggantikan metoda – metoda kerja dalam praktek dengan berbagai metoda yang di kembangkan atas dasar illmu pengetahuan tentang kerja yang ilmiah dan benar.
2.       Mengadakan seleksi, latihan – latihan dan pengembangan para karyawan secara ilmiah, agar memungkinkan para karyawan bekerja sebaik – baiknya sesuai dengan spesialisasinya.
3.       Pengembangan ilmu tentang kerja serta seleksi, latihan dan pengembangan secara ilmiah harus diintegrasikan, sehingga para karyawan memperoleh kesmpatan untuk mencapai tingkatupah yang tinggi, sementara manajemen dapat menekan biaya produksi menjadi rendah.
4.       Untuk mencapai manfaat manajemen ilmiah, perlu dikembangkan semangat dan mental para karyawan melalui pendekatan antara karyawan melalui pendekatan antara karyawan dan manajer sebagai upaya untuk menimbulkan suasana kerja sama yang baik.
Taylor, seperti ahli klasik lainnya, juga menyatakan bahwa efisiensi terbesar dapat dicapai dengan pembagian kerja atau spesialisasi.







TEORI KLASIK: ANATOMI ORGANISASI FORMAL
DEFINISI ORGANISASI FORMAL
                Tiga unsur pokok organisasi formal yang selalu muncul dalam leteratur – literature manajemen adalah:
1.       System kegiatan yang terkoordinasi. Organisasi dalam kenyataannya, selalu terdiri dari bagian – bagian dan hubungan – hubungan. Bagian – bagian organisasi merupakan kegiatan atau fungsi yang dilaksanakan dan saling berhubungan.
2.       Kelompok orang. Dibutuhkan adanya sekelompok orang yang melaksanakan kegiatan – kegiatan organisasi.
3.       Kerjasama untuk mencapai tujuan. Organisasi tersusun atas dasar hubungan atasan dan bawahan. Sehingga kekuasaan adalah suatu unsur organisasi formal yang harus ada. Kepemimpinan mencerminkan kualitas orang yang tepat dalam usaha kerjasama untuk mencapai tujuan.

Organisasi formal adalah system kegiatan yang tekoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan dibawah kekuasaan dan kepemimpinan.
Dasar – dasar organisasi menurut teori klasik
                Menurut para pengikut aliran teori organisasi klasik, adanya suatu organisasi atau koordinasi bergantung pada empat kondisi pokok yang harus ada sebelum “kesatuan kegiatan” (unity of action) itu mungkin terjadi. Kondisi – kondisi tersebut adalah sebagai berikut:
1.       Kekuasaan. Bisa  demokratis atau otokratis, hal ini bisa disebut sebagai sumber pengorganisasian tertinggi.
2.       Saling melayani. Yang merupakan legitimasi social pada organisasi. Setiap organisasi itu ada dan diakui oleh masyarakat umum atau masyarakat informal, karena pelayanan terhadap kepentingan – kepentingan social. Jadi, organisasi timbul karena masyarakat merasakan manfaat positif dari adanya organisasi tersebut.
3.       Doktrin. Dalam arti yang sederhana, hal ini merupakan rumusan tujuan organisasi. Oleh karena itu, kebijaksanaan, prosedur, peranan, dan peraturan – peraturan organisasi harus didasarkan pada doktrin organisasi.
4.       Disiplin. Diartikan sebagai perilaku yang ditentukan oleh perintah atau pengendalian diri. Disiplin ini sangat di perlukan agar organisasi dapat diarahkan, dapat dipercaya, dan mendapat dukungan dari orang – orang yang berpartisipasi di dalamnya. Disiplin dapat di turunkan dari hal yang negative yaitu paksaan ,atau positif yaitu dari kesadaran tanggung jawab individu terhadap tujuan organisasi.

Dasar- dasar ini dapat di terapkan untuk merancang struktur dan bentuk organisasi.
Tiang dasar teori organisasi formal adalah :
1.       Pembagian kerja
2.       Proses scalar dan fungsional, proses pertumbuhan vertical dan horizontal organisasi
3.       Struktur, hubungan antara berbagai kegiatan berbeda yang dilaksanakan di dalam suatu organisasi.
4.       Rentang kendali (span of control)



Teori Organisasi Neoklasik
                Teori Neoklasik dikembangkan atas dasar teori klasik. Teori Neoklasik merubah, menambah, dan dalam banyak  hal memperluas teori klasik. Teori Neoklasik didefinisikan sebagai suatu organisasi sebagai kelompok dengan tujuan bersama. Bila pada teori klasik banyak menitik beratkan pembahasannya pada struktur, tata tertib, organisasi formal, factor-faktor ekonomi dan rasionalitas tujuan sedangkan teori neoklasikbanyak menekankan pentingnya aspek social dalam pekerjaan atau organisasi informal dan aspek psikologis (emosi).
                Perkembangan Teori Neoklasik
                Perkembangan teori neoklasik dimulai dengan inspirasi percobaan-percobaan yang dilakukan di Hawthorne, serta tulisan Hugo Munsterberg. Pendekatan neoklasik ditemukan juga di dalam buku-buku tentang hubungan manusiawi seperti Gardener dan Moore, Human Ralation in Industry dan sebagainya.
                Hugo Munsterberg
                Sebagai pencetus psikologi industry yang diakui luas, Hugo Munsterberg menulis bukunya yang paling menonjol, Psychology and Industrial EfficiencyI,pada tahun 1913. Buku ini merupakan jembatan penting antara manajemen ilmiah dan perkembangan lebih lanjut teori neoklasik yang berkembang sekitar tahun 1930-an. Pada dasarnya Munsterberg menekankan adanya perbedaan-perbedaan karakteristik individual dalam organisasi-organisasi.
                Percobaan-percobaan Hawthone
                Percobaan Hawthone dimulai tahun 1924 di pabrik Hawthorne milik perusahaan Western Electric di Cicero, Illinois, dekat Chocago, dan disponsori oleh National Research Council (Lembaga riset Nasinal). Studi Hawthorne memperkenalkan gagasan bahwa organisasi adalah suatu system terbuka dimana segmen-segmen teknis dan manusiawi saling berkaitan erat . Studi tersebut juga menekankan pentingnya sikap karyawan dalam era dimana insentif upah dan kondisi kerja phisik sering dipandang sebagai satu-satunya factor yang menetukan produktivitas. Akhirnya percobaan Hawthorne menunjukan bagaimana kegiatan kelompok-kelopmpok kerja kohesif sangat berpengaruh pada operasi organisasi.
                Pandangan Neoklasik Terhadap Organisasi Informal
                Titik tekanan teori neoklasik adalah dua elemen poko dalam organisasi yaitu perilaku individu dan kelompok pekerja. Organisasi informal muncul sebagai tanggapan akan kebutuhan social manusia – kebutuhan untuk berhungan dengan orang lain.
                Factor – factor yang dapat menentukan munculnya organisasi informal antara lain :
1.       Lokasi , untuk membentuk suatu kelompok orang harus mempunyai kontak tatap muka yang ajeg.
2.       Jenis pekerjaan, ada kecenderungan bahwa manusia yang melaksanakan jenis pekerjaan yang sama akan membentuk kelompok bersama.
3.       Minat, perbedaan minat di antara mereka menjelaskan mengapa muncul beberapa organisasi informal yang kecil, di samping satu yang besar.
4.       Masalah-masalah khusus,

Teori Organisasi Modern
                Aliran besar  ketiga dalam teori organisasi dam manajemen adalah teori modern atau disebut juga analisa system pada organisasi. Teori modern melihat semua unsure sebagai satu kesatuan. Teori modern mengemukakan bahwa organisasi bukanlah suatu system tertutup yang berkaitan erat dengan lingkungan yang stabil tetapi organisasi adalah suatusistem terbuka yang harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungannya.
                Dasar Pemikiran Teori Organisasi Modern
                Teori organisasi dan manajemen modern dikembangkan sejak tahun 1950. Teori modern dengan tekanan pada perpaduan (synthesis) dan perancangan (design), menyediakan pemenuhan suatu kebutuhan yang menyeluruh.
                Teori modern bias disebut sebagai teori organisasi dan manajemen umum yang memadukan teori klasik dan neoklasik dengan konsep-konsep yang lebih maju. Ini dilakukan dengan memandang organisasi sebagai suatu proses dinamis yang terjadi dengan dan dalam hal-hal yang umum, dikendalikan oleh sruktur.
                Teori modern menyebutkan bahwa kerj suatu organisasi adalah sangat kompleks, dinamis, multilevel, multidimensional, multi variable, dan probabilistic. Sebagai suatu system, organisasi terdiri atas 3 (tiga) unsure ,yaitu :
1.       Unsure struktur yang bersifat makro
2.       Unsure proses yang juga bersifat makro
3.       Unsure perilaku anggota organisasi yang bersifat mikro.
Ketiga unsure ditas saling kait-mengait dan sebenarnya tak terpisahkan satu sama lain.
               
Teori Sistem Umum
                Teori system umum merupakan suatu aspek analisis organisasi yang berusaha untuk menemukan kaidah-kaidah umum organisasi yang berlaku universal. Tujuan teori system umum adalah penciptaan suatu ilmu pengetahuan organisasional universal dengan menggunakan elemen-elemen dan proses-proses umum seluruh system sebagai titk awal.
                Ada beberapa tingkatan system yang harus diintegrasikan. Kenneth Boulding mengemukakan klasifikasi tingkat-tingkat system sebagai berikut :
1.       Struktur static
2.       Sistem dinamik sederhana
3.       Sistem sibernetik
4.       System terbuka
5.       System genetika social
6.       System hewani
7.       System manusiawi
8.       System social
9.       System transdental
Konsep system ini menjadi dasar utama analisa organisasi akan teori organisasi modern. Teori organisasi modern mempunyai kesamaan dengan teori system umum dalam cara memandang organisasi sebagai sesuatu yang terintegrasi.
                Teori Organisasi dalam Suatu Kerangka Sistem 
                Teori organisasi modern adalah multidisipliner yang konsep-konsep dan teknik-tekniknya dikembangkan dari banyak bidang studi. Teori modern berusaha untuk memberikan sintesa yang menyeluruh bagian-bagian yang berhubungan dengan semua bidang studi tersebut untuk mengembangkan suatu teori organisasi yang diterima umum. Hal ini sering disebut analisa system pada organisasi.
                Factor-faktor yang membedakan kualitas teori organisasi modern dengan teori-teori lainnya adalah dasar konseptual – analitiknya, ketergantungannya pada data riset empiric, dan di atas semuanya, sifat pemaduan dan pengintegrasikannya. Kualiatas-kualitas ini merupakan kerangka filosofi yang diterima sebagai suatu cara untuk mempelajari organisasi sebagai suatu system.
                Bagian-bagian dari system dan saling ketergantungannya.
1.     Individu dan struktur kepribadiannya yang diberikan kepada organisasi.
2.     Penentuan fungsi-fungsi formal, yang biasa disebut organisasi formal.
3.     Organisasi informal.
4.     Struktur status dan peranan.
5.     Lingkungan phisik pelaksanaan pekerjaan.
Proses-proses hubungan dalam system.
                Teori organisasi modern menunjukkan tiga kegiatan proses hubungan universal yang selalu muncul pada system manusia dalam perilakunya berorganisasi. Ketiga proses tersebut adalah
1.       komunikasi ,
2.       berusaha untuk mencapai keseimbangan, dan
3.       pengambilan keputusan.
                Tujuan-tujuan organisasi
                Organisasi mempunyai tiga tujuan utama yang saling berhubungan. Tujuan-tujuan tersebut adalah pertumbuhan, stabilitas, dan interaksi. Ketiga tujuan organisasi itu akan membedakan bentuk organisasi dengan tingkat kompleksitas yang berbeda-beda. Persamaan dalam tujuan-tujuan tersebut juga telah diteliti oleh para ahli sejalan dengan pengembangan teori system umum.
               


Pendekatan - Pendekatan Manajemen
Pendekatan Proses
                Pendekatan proses dalam manajemen juga disebut pendekatan fungsional, operasional, universal, tradisional atau klasik. Para pencetus pendekatan ini bermaksud untuk mengindetifikasikan fungsi-fungsi manajemen dan kemudian menetapkan prinsip-prinsip dasar organisasi dan manajemen. Empat prinsip pendekatan proses klasik yang penting adalah 1) kesatuan perintah, 2) persamaan wewenang dan tanggung jawab, 3) rentang kendali yang terbatas, dan 4) delegasi pekerjaan-pekerjaan rutin.
Pendekatan Keperilakuan
                Pendekatan ini sering disebut pendekatan hubungan manusiawi (human relation approach). Pendekatan hubungan manusiawi dalam usahanya melengkapi pendekatan klasik, banyak menggunakan pandangan sosiologi dan psikologi. Oleh karena itu, pusat bahas pendekatan ini adalah perhatian terhadap para karyawan secara individual dan kelompok kerja.
Pendekatan Kuantitaif
                Pendekatan kuantitif (quantitative approach) sering dinyatakan dengan istilah management science atau operations research (OR). Pendekatan ini terutama memandang manajemen dari perspektif model-model matematis dan proses-proses kuantitaif.
                Menurut pendekatan kuantitatif, masalah-masalah manajemen dpata dirumuskan dan dijabarkan dalam berbagai bentuk model matematis dan kemudian dianalisa serta dipecahkan dengan menggunakan berbagai teknik atau metode kuantitaif untuk memperoleh hasil optimum.
Pendekatan Sistem
                Pendekatan system dalam manajemen merupakan pendekatan yang ditetapkan paling akhir, dan dapat dipahami dengan sudut pandangan teori system umum atau analisis system. Pendekatan system terutama menekankan saling ketergantungan dan keterkaitan bagian-bagian organisasi sebagai keseluruhan. Pendekatan ini memberikan kepada manajemen cara memandang organisasi sebagai keseluruhan dan sebagai bagian lingkungan eksternal yang lebih luas. Organisasi dipandang sebagai system terbuka dan pada hakekatnya merupakan proses transformasi berbagai masukan yang menghasilkan keluaran
Pendekatan Contingency (Situasional)
                Pendekatan Contingency muncul karena ketidakpuasan atas anggapan keuniversalan dan kebutuhan untuk memasukkan berbagai variable lingkungan ke dalam teori dan praktek manajemen. Ada tiga komponen pokok dalam lerangka konseptual untuk pendekatan contingency : lingkungan , konsep-konsep dan teknik-teknik manajeman, dan hubungan kontingensi antara keduanya.